Sabtu, 26 September 2015
Fungsi Domain Dan Dan Hosting
Istilah Domain dan Hosting mungkin sudah tak asing lagi bagi Anda, namun tak jarang banyak netter yang tak mengenal tentang kedua hal tersebut meskipun tanpa mereka sadari mereka sudah menjumpainya dalam bentuk nyata berkali-kali. Berikut akan saya jelaskan secara gamblang mengenai domain dan hosting menurut pendapat saya dengan beberapa refrensi tambahan.
DOMAIN
Domain merupakan nama unik yang dapat kita gunakan untuk mengakses suatu halaman web yang berisi kumpulan kode-kodeHTML. Dengan kata lain, domain merupakan suatu petunjuk yang dapat kita gunakan untuk merujuk web orang lain, sehingga domain seperti alamat rumah seseorang di dunia maya. DOMAIN sering pula diartikan sebagai URL (Uniform Resource Locator), yang merupakan serangkaian nama unik yang sesuai dengan standar susunan tertentu yang dapat digunakan untuk merujuk alamat suatu sumber seperti dokumen dan gambar di internet.
Domain pun memiliki susunan KASTA (tingkatan) tersendiri, yakni Kasta tertinggi atau Top Level Domain (TLD), Kasta kedua atau Second Level Domain (SLD), Kasta ketiga atau Third Level Domain, dan seterusnya.
Untuk saat ini, Top Level Domain dapat dikategorikan menjadi 2 jenis, yakni menurut kode negara atau country code TLD (ccTLD) dan menurut tingkat ngetopnya atau generic TLD. Inilah beberapa contoh dari country code TLD : .id (Indonesia), .us (United State a.k.a Amerika), .au (Autralia), .me (Montenegro), dan masih banyak lagi lainnya. Sedangkan contoh untuk generic TLD yang kebanyakan penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan, yakni: .com (kebutuhan komersial), .gov (dari kata goverment, pemerintahan), .org (kebutuhan untuk organisasi), .edu (edukasi), .info (informasi), dsb.
Beberapa fakta mengenai domain dan kepemilikan domain, diantaranya : 1. Semakin unik nama sebuah domain, semakin tinggi pula kemungkinan kepopuleran suatu web/blog yang dirujuk oleh domain tersebut, 2. Kepemilikan domain bersifat siapa cepat dia yang dapat, sehingga kita harus cepat-cepat membeli domain dengan nama seunik dan sebagus mungkin sebelum diambil orang.
HOSTING
Hosting merupakan ruang penyimpanan yang memuat segala hal yang mendukung terciptanya sebuah web/blog, baik berupa konfigurasiemail, kofigurasi PHP dan HTML, MySQL, dan materi-materi pendukung lainnya. Di dalam hosting, kita akan mengenal yang namanya SPACE (besar kecilnya kemampuan untuk menyimpan data) dan BANDWIDTH. Dengan demikian lengkaplah sudah piranti yang dapat kita gunakan untuk membuat sebuah web beserta domainnya.
Saat ini banyak sekali bertaburan penyedia-penyedia layanan hosting. Mereka berlomba-lomba menarik perhatian banyak orang dengan berbagai macam fitur, mulai dari hosting murah sampai hosting dengan biaya sewa hingga 700 ribuan setiap tahunnya.
DOMAIN DAN HOSTING
Domain dan hosting merupakan sebuah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan, kalau diibaratkan hubungan antara domain dan hosting seperti kunci dan gembok rumah. Tak peduli seberapa besar rumah yang telah kita bangun dan seberapa cantik kita telah mendisainnya, kalau rumah sebegitu bagusnya tetap terkunci dan tidak dapat dimasuki atau ditinggali, apa gunanya. Tentunya kita memerlukan bantuan dari kunci tersebut untuk mengakses rumah tersebut. Begitu juga dengan nasib si kunci, apabila kita telah memiliki akses masuk, namun apa yang bisa kita kunjungi atau kita tempati kalau ternyata belum ada isinya apa-apa (kosong). Seperti itulah hubungan antara domain dan hosting, kita bisa membangun sebuah website/blogdengan leluasa, namun kita memerlukan domain sebagai alamat yang dapat kita dan orang lain gunakan untuk mengakses website/blogyang telah kita bangun. Yang sudah pasti, domain dan hosting tersebut bisa kita beli dengan harga yang bervariatif sesuai dengan versinya masing-masing, dan Anda tak perlu khawatir karena banyak lembaga/jasa yang menyediakan hosting murah dan domain murah.
sumber : samperin.wordpress.com
Minggu, 20 September 2015
KONSEP PENDIDIKAN ISLAM
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan
bagian yang tidak dapat dipisahkan dari hidup dan kehidupan manusia. John Dewey
menyatakan, bahwa pendidikan sebagai salah satu kebutuhan, fungsi sosial,
sebagai bimbingan sarana pertumbuhan yang mempersiapkan dan membukakan
serta membentuk disiplin hidup (Zakiyah Darajat, 1983 :1). Untuk membentuk
disiplin hidup maka perlu adanya Pendidikan Islam. Yang mengembangkan kemampuan
individu secara maksimal dan positif. Dalam pendidikan Islam itu sendiri
terdapat konsep-konsep dalam mengembangkan kemampuan individu yaitu Ta’lim, Ta’dib,
dan Tarbiyah. Dengan adanya konsep-konsep tersebut maka terealisasikannya
pendidikan dan tujuan pendidikan.
B. Pokok Bahasan
1.
Konsep Ta’lim adalah
proses pengajaran yang lebih mengarah pada aspek kognitif.
2.
Konsep ta’dib adalah
suatu pendidikan yang lebih mengarah pada aspek afektif.
3.
Konsep tarbiyah adalah
proses pengajaran yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan peserta didik, yang
mencakup Afektif, Kognitif dan Psikomotorik.
BAB II
PEMBAHASAN
Dalam pendidikan Islam
terdapat tiga konsep dasar pendidikan Islam, yaitu Ta’lim, Ta’dib, dan
Tarbiyah. Untuk lebih jelasnya ketiga konsep tersebut akan dijelaskan sebagai
berikut :
A. Ta’lim
Kata ta’lim berasal dari kata dasar “allama” yang berarti
mengajar, mengetahui. Pengajaran (ta’lim) lebih mengarah pada aspek
kognitif, ta’lim mencakup aspek-aspek pengetahuan dan keterampilan yang
dibutuhkan seseorang dalam hidupnya serta pedoman perilaku yang baik.
Muhammad
Rasyid Ridha mengartikan ta’lim dengan : “Proses transmisi berbagai ilmu
pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan
tertentu”. Definisi ta’lim menurut Abdul Fattah Jalal, yaitu sebagai
proses pemberian pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan penanaman
amanah, sehingga penyucian diri manusia itu berada dalam suatu kondisi yang
memungkinkan untuk menerima al-hikmah serta mempelajari segala apa yang
bermanfaat baginya dan yang tidak diketahuinya. Mengacu pada definisi
ini, ta’lim berarti adalah usaha terus menerus manusia sejak
lahir hingga mati untuk menuju dari posisi “tidak tahu” ke posisi “tahu”
seperti yang digambarkan dalam surat An Nahl ayat: 78.
Artinya :
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui
sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu
bersyukur.
Dari
pengertian diatas, ta’lim mencakup aspek-aspek pengetahuan dan keterampilan
yang dibutuhkan seseorang dalam hidupnya serta pedoman perilaku yang baik,
sebagai upaya untuk mengembangkan, mendorong dan mengajak manusia lebih maju
dan kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik
yang berkaitan dengan akal, perasaan maupun perbuatan karena seseorang
dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, tetapi ia dibekali
dengan berbagai potensi untuk mengembangkan keterampilannya tersebut agar dapat
memahami ilmu serta memanfaatkannya dalam kehidupan.
Pengajaran
mencakup teoritis dan praktis sehingga peserta didik memperoleh kebijakan dan
menjauhi kemadaratan. Pengajaran itu juga mencakup ilmu pengetahuan dan
al-hikmah (bijaksana), misalnya guru matematika akan berusaha mengajarkan
al-hikmah matematika, yaitu pengajaran nilai kepastian dan ketepatan dalam
mengambil sikap dan tindakan dalam kehidupannya, yang dilandasi oleh
pertimbangan yang rasional dan perhitungan yang matang.
B. Ta’dib
Kata
ta’dib secara etimologis adalah bentuk masdar yang berasal dari kata “addaba”,
yang artinya membuat makanan, melatih dengan akhlak yang baik, sopan santun,
dan tata cara pelaksanaan sesuatu yang baik.
Menurut
al-Naqaid, al-Attas, ta’dib berarti pengenalan dan pengakuan yang secara
berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat
dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing ke arah
pengenalan dan pengakuan kekuatan dan keagungan Tuhan.
Dalam pengertian ta’dib
di atas bahwasannya pendidikan dalam pespektif Islam adalah usaha agar orang
mengenali dan mengetahui sesuatu sistem pengajaran tertentu. Seperti halnya
dengan cara mengajar, dengan mengajar tersebut individu mampu untuk
mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya, misalnya seorang pendidik
memberikan teladan atau contoh yang baik agar ditiru, memberikan pujian, dan
hadiah, mendidik dengan cara membiasakan, dengan adanya konsep ta’dib tersebut
maka terbentuklah seorang Individu yang muslim dan berakhlak. Pendidikan ini
dalam sistem pendidikan dinilai sangat penting fungsinya, karena bagaimanapun
sederhananya komunitas suatu masyarakat pasti membutuhkan atau memerlukan
pendidikan ini terutama dalam pendidikan akhlak. Dari usaha pembinaan dan
pengembangan ini diharapkan manusia mampu berperan sebagai pengabdi Allah
dengan ketaatan yang optimal dalam setiap aktivitas kehidupannya, sehingga
terbentuk akhlak yang mulia yang dimiliki serta mampu memberi manfaat bagi
kehidupan alam dan lingkungannya. Jadi terwujudlah sosok manusia yang beriman
dan beramal shaleh.
Dalam
konsep ta’dib mengandung tiga unsur, yaitu : pengembangan iman, pengambangan
ilmu, pengembangan amal. Hubungan antara ketiga sangat penting karena
untuk tujuan pendidikan juga. Iman merupakan suatu pengakuan terhadap apa yang
diciptakan Allah di dunia ini yang direalisasikan dengan ilmu, dan
konsekuensinya adalah amal. Ilmu harus dilandasi dengan iman, dengan
iman maka ilmu harus mampu membentuk amal karena ilmu itu harus diamalkan kepada
orang yang belum mengetahuinya, dengan terealisasikannya unsur tersebut maka
akan terwujudnya tujuan pendidikan.
Dalam
sosok pribadi manusia beriman dan beramal shaleh tersebut dapat digambarkan
bahwa mereka memiliki jati diri sebagai pengabdi Allah, serta ikut dalam
berkreasi dan berinovasi guna kepentingan kesejahteraan hidup bersama. Atas
dasar keimanan, mampu memelihara hubungan dengan Allah dan antara dirinya
dengan sesama makhluk Allah, sedangkan realisasi dan keimanan itu terlihat dari
kemampuan untuk senantiasa berkreasi dan berinovasi yang bernilai bagi
kehidupan bersama.
Ta’dib
sebagai upaya dalam pembentukan adab (tata krama), terbagi atas empat macam :
1. Ta’dib
adalah al-haqq, pendidikan tata krama spiritual dalam kebenaran, yang di
dalamnya segala yang ada memiliki kebenaran dan dengannya segala sesuatu
diciptakan.
2. Ta’dib
adab al-Khidmah, pendidikan tata krama spiritual dalam pengabdian.
3. Ta’dib
adab al-Syari’ah, pendidikan tata krama yang tata caranya telah digariskan oleh
Allah memalui wahyu.
4. Ta’dib
adab al-shuhbah, pendidikan tata krama dalam persahabatan, berupa saling
menghormati dan saling tolong menolong.
C. Tarbiyah
Dalam
bahasa Arab, kata al-tarbiyah memiliki tiga akar kebakaan, yaitu :
1. Rabba,
yarbu : yang memiliki makna tumbuh, bertambah, berkembang.
2. Rabbi,
yarba, : yang memiliki makna tumbuh dan menjadi besar atau dewasa.
3. Rabba,
yarubbu, : yang memiliki makna memperbaiki, mengatur, mengurus dan mendidik,
menguasai dan memimpin, menjaga dan memelihara.
Menurut Musthafa
Al-Ghalayani, at-tarbiyah adalah penanaman etika yang mulia pada anak yang
sedang tumbuh dengan cara memberi petunjuk dan nasihat, sehingga ia memiliki
potensi dan kompetensi jiwa yang mantap, yang dapat membuahkan sifat-sifat
bijak, baik cinta akan kreasi, dan berguna bagi tanah airnya.
Tarbiyah (pendidikan)
merupakan transformasi pengetahuan dari satu generasi kegenerasi, atau dari
orang tua kepada anaknya. Transformasi pengetahuan ini dilakukan dengan penuh
keseriusan agar peserta didik memiliki sikap dan semangat yang tinggi dalam
memahami dan menyadari kehidupannya, sehingga terbentuk ketakwaan, budi pekerti,
dan kepribadian yang luhur. Dengan terbentuknya individu seperti itu maka suatu
pendidikan dapat terealisasikan tujuannya.
Dalam
pendidikan (tarbiyah) ini mencakup ranah kognitif, afektif, psikomotorik,
ketiga ranah tersebut harus dimiliki peserta didik, agar apa yang jadi visi
misi lembaga institusi tertentu bisa terwujud tujuan pendidikannya, untuk itu
maka pendidik dalam mendidik harus memiliki rasa keseriusan, keikhlasan dalam
menjalankan tugas-tugasnya. Agar peserta didik menjadi sosok yang diharapkan
dan bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri dan juga masyarakat.
Musthafa
al-Maraghi membagi aktivitas al-tarbiyah menjadi dua macam:
1. Tarbiyah
khalaqiyyah, yaitu pendidikan yang terkait dengan perumbuhan jasmani manusia,
agar dapat dijadikan sebagai sarana dalam pengembangan rohaninya.
2. Tarbiyah
diniyah tahdzibiyyah, pendidikan yang terkait dengan pembinaan dan pengembangan
akhlak dan agama manusia.
Dalam pengertian
tarbiyah ini menunjukkan bahwa pendidikan islam tidak sekedar menitik beratkan
pada kebutuhan jasmani, tetapi diperlukan juga pengembangan kebutuhan psikis,
sosial, etika dan agama untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Pendidikan Islam yang
dilakukan harus mencakup proses transformasi kebudayaan, nilai dan ilmu
pengetahuan dan aktualisasi terhadap seluruh potensi yang dimiliki oleh peserta
didik, agar mencetak peserta didik ke arah insan kamil, yaitu insan sempurna
yang tahu dan sadar akan diri dan lingkungan.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidik dalam
perspektif Islam mencakup tiga konsep, yaitu :
1. Konsep
ta’lim : proses pendidikan yang mengarah pada aspek kognitif, dengan cara
mengembangkan kemampuan, keterampilan peserta didik,
2. Konsep
ta’dib : Pendidikan yang mengedepankan aspek afektif, agar dapat membentuk
pribadi manusia beriman dan beramal shaleh.
Ta’dib terbagi menjadi 4
macam yaitu :
a. Ta’dib
adab al-haqq
b. Ta’dib
adab al-khidmah
c. Ta’dib
adab al-syari’ah
d. Ta’dib
adab al-shuhbah
3. Konsep
tarbiyah : proses pengajaran untuk mengembangkan, menumbuhkan yang mencakup
kognitif, afektif, dan psikomotorik.
B. Saran
Dalam
suatu pendidikan Islam peserta didik harus mampu mengembangkan kemampuannya dalam
ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik dan harus adanya keseimbangan antara
ketiga ranah tersebut, agar terwujudnya sosok pribadi yang bertaqwa dan berakal
shaleh dan agar menjalani insan kamil.
DAFTAR PUSTAKA
Tafsir, Ahmad, Ilmu
Pendidikan Dalam Perpektif Islam. Bandung : Remaja Rosdakarya, 1984.
Nasir, Ridlwan, Mencari
Tipologi Format Pendidikan Ideal. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005.
Jalaludin, Teologi
Pendidikan, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003
Mujib, Abdul, Ilmu
Pebdidikan Islam. Jakarta : Kencana Prenada Media, 2006
Halim, Mahmud, Ali Abdul
Pendidikan Ruhani. Jakarta : Gema Insani Press, 2000.
Sabtu, 19 September 2015
MAKALAH KEPRIBADIAN GURU MENURUT KONSEP ISLAM
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam proses beiajar mengajar, guru menempati posisi penting dan penentu berhasil tidaknya pencapaian tujuan suatu proses pembelajaran. Sekalipun proses pembelajaran telah menggunakan berbagai model pendekatan dan metode yang lebih memberi peluang siswa aktif, kedudukan dan peran guru tetap penting dan menentukan.
Dalam sebuah ungkapan bahasa Arab dinyatakan, "ath-thoriqotu ahammu minal maadah, wal mudarrisu ahammu min kulli sya’i " (Metode atau cara pembelajaran lebih penting daripada materi pembelajaran, dan guru lebih penting dari segalanya). Ungkapan ini mengandung makna bahwa seorang guru harus menguasai materi pembelajaran yang akan disampaikan. Lebih baik dari itu, penguasaan metode pembelajaran oleh seorang guru memiliki arti lebih penting lagi dan menentukan keberhasilan suatu proses pembelajaran dari pada hanya penguasaan materi. Di atas itu semua, posisi dan peran guru jauh lebih penting dan menentukan atas segalanya. Materi, metode, media, dan sumber pembelajaran, semuanya menjadi tidak bermakna apabila guru tidak mampu memerankan tugasnya dengan baik.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan gambaran latar belakang masalah yang kami uraikan diatas, maka rumuasan masalah yang menjadi pokok pembahasan ini yaitu :
1. Apa Pengertian Kepribadian Guru ?
2. Serta Bagaiamanakah Karakteristik Kepribadian Guru Di MI, MTS, Dan MA?
3. Apa Saja Komponen -Komponen Yang Ada Dalam Kepribadian Guru?
C. Batasan Masalah
Untuk menghindari kemungkinan melebarnya masalah pada saat dalam diskusi berlangsung, untuk itu kami sebagai penyusun makalah memberi batasan masalah yang hanya berkisar pada pengertian kcpribadian guru PAl dan komponen kompetensi guru.
D. Tujuan
Disamping itu adapun tujuan pembuatan makalah ini untuk mengetahui sejauh mana seorang guru PAI dapat berkompetensi dalam mendesain dan melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar dengan anak didiknya yaitu dengan membangun karakteristik yang emosional dan spritual dalam membentuk keimanan dan ketaqwaan, sesuai dengan yang diharapkan agar dapat menjadi suri tauladan yang baik bagi peserta didik kelak, sekaligus tujuannya adalah untuk memenuhi tugas mata
kuliah yang diberikan oleh dosen pengampu dalam mata kuliah kompetensi guru PAI yaitu Suyitno, M.Pd.I Semoga dengan adanya kompetensi guru tersebut bisa menjadi acuan bagi tercapainya salah satu tujuan bangsa Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kepribadian Guru
Faktor terpenting dari seorang guru adalah kepribadiannya. Karena dengan kepribadian itulah seorang guru bisa menjadi seorang pendidik dan pembina bagi anak didiknya atau bahkan malah sebaliknya akan menjadi perusak dan penghancur bagi masa depan anak didiknya. Kepribadian yang sesungguhnya adalah abstrak, sulit dilihat dan tidak bisa diketahui secara nyata yang dapat diketahui yaitu hanyalah penampilan dari segi luarnya saja yaitu misalnya : dalam tindakannya, ucapannya, cara bergaul, berpakaian dan menghadapi segala persoalan atau masalah baik yang ringan ataupun yang berat.
Kepribadiaan adalah sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri-ciri khas dan prilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjadi standar atau baku, sehingga kalu dikatakan pola sikap itu sudah berlaku terus-menerus secara konsisten dalam menghadapi situasi yang dihadapi.
Menurut Zakiah Darajat ada 2 macam kepribadian guru yaitu :
1. Guru yang menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang memerintah dan menyumh yaitu hal seperti ini kurang menyenangkan dalam pendidikan.
2. Guru yang menempatkan sebagai pembimbing bagi anak didiknya yaitu biasanya guru seperti ini sangat menarik dan menyenangkan. Maksudnya yaitu ia akan disenangi dan disayangi oleh anak didiknya.
Bagaimanapun seorang guru memberikan pelajaran bahkan penguasaan materi yang matang tanpa diiringi oleh kepribadian yang baik dan menarik seorang guru bisa menjadi guru yang ideal.
Menurut Thomas Gordon yang disebut oleh Drs. Mudjito definisi guru ideal diambil dari mitos umum tentang guru dan pengajaran yaitu:
1. Guru yang baik adalah guru yang kalem tidak pernah berteriak dan bertempramen baik selalu tenang dan tak pernah menunjukkan emosi yang tinggi.
2. Guru yang tidak pernah berprasangka buruk.
3. Menerima anak didik dengan semua pandangan yang sama.
4. Menyediakan lingkungan belajar yang menarik,merangsang atau stimulus, tenang bebas dan sesuai dengan aturan setiap saat.
5. Selalu konsisten dan mempunyai pengetahuan yang banyak dibandingkan oleh anak-anak muridnya.
Menurut M.L Soelaiman, ada resep tentang bagaimana mengolah dan memasak guru yang diambil dari inggris yang kira-kira berbunyi "carilah seorang ppribadi yang muda, kuat dean menarik, kemudian kupaslah segala sifatnya yang berlebih-lebihan dalam bentuk suara, pakaian dan tindak tanduknya yang mungkin membungkusnya. Kemudian tuangkanlah dengan suatu adonan berupa campuran dank keberanian Abu Daud, kebijaksanaan seperti nabi Sulaiman, seperti kekuatan Samson dan Kesabaran nabi Ayyub, yaitu dalam takaran sama banyaknya. Bumbunya adalah garamnya pengalaman, ladanya semangat, dan minyaknya simpati dan jangan lupa humor sebagai bumbu penyedapnya.
Maksudnya dari penjelasan diatas adalah untuk menjadi guru yang baik, kepribadian guru harus lebih kuat baik fisik maupun mental. Sebab dalam tugasnya guru mempunyai wewenang dalam mengahadapi tugas dan tanggung jawab yang cukup berat, kemudian guru harus berjiwa muda yang dapat menyelami gejolak perasaan serta liku-liku hidup generasi muda dan harus mempunyai daya tarik agar dapat mendekati dan didekati oleh siswa.
Untuk menjadi guru yang berkompetensi, maka guru harus mengembangkan kepribadiannya yang meliputi:
1. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Berperan sebagai masyarakat sebagai warga negara yaitu yang berjiwa Pancasila.
3. Mengembangkan sifat-sifat terpuji yang dipersyaratkan bagi jabatan guru.
Ketiga hal diatas dianggap perlu karena seluruh ranah kompetensi guru wajib menjalankan apa-apa yang dianggap sebagai norma dan falsafah hidup suatu bangsa, beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah syarat wajib yang harus dimilikioleh setiap warga negara bukan hanya seorang guru yang memilikinya, karena syarat dari warga negara Indonesia diantaranya adalah beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Selain beriman kepada tuhan Yang Maha Esa seorang guru hendaknya harus menyatu dengan masyarakat karena disamping sebagai guru tersebut sebagai contoh panutan/tauladan bagi anak didiknya dimasyarakat tersebut juga bagian dari masyarakat yang mempunyai satu kesatuan dan saling ketergantungan. Namun hal yang paling terpenting dalam kehidupan seorang guru adalah pengembangan sifat-sifat terpuji dan akhlakul karimah yaitu sesuai dengan tujuan pendidikan agama Islam bagi seorang guru. Kepribadian guru juga merupakan salah satu faktor terpenting didalam melakukan atau melaksanakan penciptaan suasana yang menguntungkan dalam proses belajar mengajar.
Menurut Abu Ahmadi seorang guru yang berhasil dituntut untuk beriskap hangat, adil, objektif, dan fleksibel sehingga terbina suasana emosional yang menyenangkan dalam proses belajar mengajar.
Kompetensi adalah seperangkat tindakan inteligen penuh tanggung jawab yang harus dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu melaksanakan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan tertentu. Sifat inteligen harus ditunjukkan sebagai kemahiran, ketepatan dan keberhasilan bertindak. Sifat tanggung jawab harus ditunjukkan sebagai kebenaran tindakan baik dipandang dari susut ilmu pengetahuan, teknologi maupun etika. Dalam arti tindakan itu benar ditinjau dari sudut ilmu pengetahuan, efisien, efektif dan memiliki daya tarik dilihat dari sudut teknologi dan baik ditinjau dari sudut etika.
Secara etimologis kata guru berasal dari bahasa sansekerta yang mempunyai arti yang dihormati. Seorang guru pada hakikatnya adalah seorang pembimbing spiritual bagi seseorang atau kelompok yang dirinya telah menguasai kemampuan spiritual. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya) mengajar.
Dalam UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (pasal 1 Ketentuan Umum), definisi Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Jadi, Kompetensi guru adalah himpunan pengetahuan, kemampuan, dan keyakinan yang dimiliki seorang guru dan ditampilkan untuk situasi mengajar. Atau dengan kata lain kompetensi guru adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.
B. Kepribadian Guru Madrasah Ibtida'iyah
Segenap guru hendaknya mengetahui dan menyadari betul bahwa kepribadiannya yang tercermin dalam berbagai penampilan itu ikut menetukan tercapai atau tidaknya tujuan pendidikan pada sebuah lembaga pendidikan itu sendiri, pada umumnya dan pada tempat ia mengajar pada khususnya. Kepribadian guru akan diserap dan diambil oleh anak didik menjadi unsur dalam kepribadiannya yang sedang tumbuh dan berkembang.
Madrasah Ibtida'iyah di Indonesia bertujuan untuk mencetak anak didik yang menjadi seorang warga negara yang baik, menerima dan mau melaksanakan pancasila dan UUD 1945. Selain itu juga madrasah ini bertujuan untuk menumbuhkan sikap dan nilai-nilai yang positif lainnya yang diperlikan bagi seorang muslim yang baik sehat jasmani maupun rohaninya, berpikiran maju dan berminat pada ilmu pengetahuan dan lain-lian. Semua yang ingin dicapai oleh tujuan madrasah ini yang dijabarka dalam kurikulumnya harus dapat benar-benar dipahami dan dilaksanakan oleh semua guru dan tercermin dalam bentuk penampilan kepribadinnya.
C. Kepribadian Guru Madrasah Tsanawiyah
Syarat kepribadian bagi guru madrasah tsanawiyah tidak begitu banyak berbeda dengan guru madrasah ibtida'iyah. Artinya setiap guru yang mengajar pada madrasah Tsanawiyah harus memahami tujuan dari madrasah tsanawiyah tersebut dan selanjutnya harus tercermin dalam bentuk kepribadinnya. Hubungan yang tercermin antara guru dan murid hendaknya dekat kepada kakak dan adik, yang bersifat membimbing dengan penuh rasa pengertian karean para siswa sedang berada dalam umur goncang akibat pertumbuhan jasmani yang sedang dialaminya.
D. Kepribadian Guru Madrasah Tsanawiyah
Guru madrasah aliyah memerlukan persyaratan kepribadian yang hampir sama dengan kepribadian guru di madrasah Ibtida'iyah dan madrasah Tsanawiyah, walaupun bidang study dan keahliannya semakin banyak dan bermacam-macam sesuai dengan jurusannya masing-masing. Kepribadian seorang guru madrasah harus dapat menjamin tercapainya tujuan pendidikan pada madrasah aliyah tersebut secara khusus dan tujuan pendidikan secara umum.
Dalam mencapai tujuan yang berpijak kepada dasar yang telah ditentukan dalam kurikulum madrasah aliyah sangat diperlukan persyaratan kepribadian guru yang akan melaksanakan kuikulum itu. Betapapun baiknya kurikulum itu dan banyaknya buku-buku dan alat pelajaran namun tujuan kurikulum itu tidak tercapai, jika guru yang melaksanakan kurikulum tersebut tidak memahami, tidak menghayati, tidak berusaha mencapainya dengan keseluruhan pribadi dan tenaga yang ada pada guru tersebut.
E. Komponen-Komponen Kompetensi Pribadi
Kemampuan pribadi meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Mengembangkan kepribadian.
a. Bertaqwa kepada tuhan Yang Maha Esa
• Mengkaji ajaran-ajaran yang dianut
• Mengamalkan ajaran yang dianut
• Mencerminkan sikap sal ing menghargai antar umat beragama
b. Berperan dalam masyarakat sebagai warga Negara yang berjiwa pancasila
• Mengkaji berbagai macam manusia pancasila.
• Mengkaji sifat-sifat kepatriotan baangsa Indonesia.
• Menghayati pada patriot dalam merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan.
• Membiasakan diri menerapka nilai pancasila dalam kehidupan.
• Mengkaji hubungan manusia dengan lingkungan alamiah buatan
• Membiasakan diri menghargai lingkungan hidup.
c. Mengembangkan sifat-sifat terpuji yang dipersyartkan bagi jabatan guru
• Mengkaji sifat-sifat yang harus dimiliki bagi jabatan guru
• Membiasakan diiri menerapkan sifat-sifat sabar, demokratis, menghargai pendapat orang lain, sopan santun, tanggap terhadap pembaharuan.
2. Berinteraksi berkomunikasi
a. Berinteraksi dengan sejawat untuk meningkatkan profesional.
• Mengkaji ajaran struktur organisasi Depdiknas
• Mengkaji hubungan kerja professional "Berlatih menerima, memberikan balikan
• Membiasakan diri mengikuti perkembangan profesi.
b. Berinteraksi dengan masyarakat untuk penunaian misi pendidikan.
• Mengkaji berbagai lembaga kemayarakatan yang berkaitan dengan pendidikan.
• Berlatih menyelenggarakan kegiatan masyarakat yang menunjang usaha-usaha pendidikan
3. Melaksanakan bimbingan penyuluhan
a. Membimbing siswa yang mengalami kesulitan
• Mengkaji konsep dasar bimbingan
• Berlatih mengenai kesulitan belajar murid
• Berlatih memberikan bimbingan kepada murid yang mengalami kesulitan belajar.
b. Membimbing murid yang mengalami berbal khusus.
• Mengkaji cirri-ciri anak yang berkelainan berbakat khusus
• Berlatih Mengenal anak yang berkelainan yang berbakat khusus.
• Berlatih menyelenggarakan kegiatan untuk anak yang berkelainan yang berbakat khusus.
4. Melaksanakan Administrasi sekolah
a. Mengenal pengadministrasian kegiatan sekolah
• Mengkaji berbagai jenis sarana administrasi sekolah
• Mengkaji pedoman administrasi sekolah
• Melaksanakan kegiatan administrasi sekolah
• Berlatih membuat mengisi berbagai format administrasi sekolah
• Berlatih menyelenggarakan administrasi sekolah
5. Melaksanakan penelitian sedcrhana untuk keperluan pengajaran.
a. Mengakaji konsep dasar penelitian ilmiah
• Mengkaji konsep dasar ilmiah yang sederhana
• Memahami laporan penelitian sederhana untuk kepentingan pengajaran
b. Melaksanakan penelitian sederhana
• Menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran
• Membiasakan diri untuk melakukan penelitian untuk keperluan pengajaran
Adapun kemampuan kepribadian guru dalam proses belajar mengajar secara rinci yaitu sebagai berikut:
1. Kemantapan integritas pribadi
Seorang guru dapat dituntut untuk dapat bekerja secara teratur tetapi kreatif dalam mengahadapi ppekerjaannya sebagai guru. Menurut Oemar Hamalik "Kemampuan dalam bekerja hendaknya merupakan karakteristik pribadinya, sehingga pola hidup seperti ini terhayati pula oleh siswa. Kemantapan integritas pribadi tidak terjadi, dengan sendirinya melainkan tumbuh melalui proses belajar yang sengaja diciptakan . Misalnya : Seorang guru dalam mengajarkan bab masalah muamalah kepada murid, guru tidak boleh sekedar hanya mengajarkan tetapi harus mampu mengaplikasikan juga dalam kehidupannya secara konsisten baik didalam sekolah maupun diluar sekolah dan hal ini pun harus dilatih dan terus dilatih melalui proses belajar mengajar.
2. Peka terhadap perubahan atau pembaharuan
Dimaksudkan agar apa yang dilakukan oleh sekolah tetap konsisten dengan kebutuhan zaman. Untuk itu kemampuan penelitian merupakan karakteristik yang harus dikuasai oleh guru walaupun dalam bentuk sifat yang sederhana. Sebagai contoh seperti yang kita lihat sekarang dalam kehidupan masyarakat banyak hal-hal yang baru dalam tatanan kehidupannya. Mungkin sesuatu yang baru ini tidak terjadi pada zaman nabi, sehingga nabi tidak menjalaskan masalah hukumnya, jadi seorang guru harus peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dengan mengadakan suatu penelitian agar tidak terjadi ketinggalan zaman yang disebabkan adanya tatanan baru yang ada dalam kehidupan masyarakat.
3. Berpikir alternatif
Ini dimaksudkan untuk menghindari verbalisme dan absolutisme. Untuk itu panduan belajar untuk setiap pelajaran harus dibuat setiap semester. Guru harus mampu memberikan berbagai alternative jawaban memilih salah satu alternative untuk kelancaran proses belajar mengajar dan meningkatkan akan mutu pendidikan. Misalnya: dalam mengajarkan masalah do'a qunut pada shalat shubuh, seorang guru tidak boleh menekankan pada satu pendapat ulama saja, misalnya ulama mengatakan tidak boleh, karena ini akan mengakibatkan verbalisme tetapi seorang guru harus berpikir alternatif dengan cara memberikan berbagai pendapat-pendapat ulama dari dari berbagai macam rujukan/sumber buku untuk menghindarkan verbalisme pada diri anak didik.
4. Adil, jujur dan objektif
Sifat-sifat ini harus ditunjang dengan mengamalkan nilai-nilai moral, social yang diperoleh dari kehidupan masyarakat serta pengalaman belajar yang diperolehnya. Adil artinya menempatkan sesuatu pada tempatnya sedangkan jujur adalah tulus ikhlas dalam menjalankan fungssinya sebagai guru. Objektif artinya menjalani aturan-aturan yang ditetapkan tidak pilih kasih. Hal ini memang sangat sesuai dengan kepribadian guru apalagi guru agama, karena dalam materi PAI ada yang membahas masalah tersebut, jadi seorang guru tidak hanya mengajarkan masalah-masalah tersebut, tetapi dituntut untuk mengaplikasikannya didalam kehidupannya sehari-hari bagaimana seorang siswa aka berlaku adil, jujur sesuai yang diajarkan oleh seorang pendidik kalau guru itu sendiri tidak melakukannya.
5. Berdisiplin dalam melaksanakan tugas
Disiplin muncul dari kebiasaan hidup yang teratur serta mencintai dan menghargai pekerjaan. Disiplin memerlukan proses pendidikan untuk itu guru memerlukan pemahaman tentang landasan ilmu pendidikan. Disiplin adalah sesuatu yang terletak didalam hati didalam jiwa seseorang yang memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu tidak sebagaimana yang ditetapkan oleh norma-norma aturan yang berlaku. Misalnya, ketika mendapat tugas jam mengajar pada jam pertama,harus dating tepat waktu, jangan sampai terlambat karena hal ini akan menciptkan suatu kondisi yang teratur dalam proses belajar mengajar.
6. Ulet tekun bekerja
Keuletan ketekunan dalam bekerja tanpa mengenal lelah serta tanpa pamrih yang harus diperhatikan oleh guru. Guru harus ulet tekun dalam bekerja sehingga program pendidikan yang telah digariskan dalam kurikulum dapat dijalankan agar dapat tercapai dengan baik. Misalnya, dalam pencapaian tujuan dari materi yang diajarkan, yaitu siswa dapat melaksanakan sekolah dengan baik dan benar. Maka seorang guru harus ulet dan tekun dalam menjalankan tugasnya untuk pencapaian dari tujuan sebuah materi sebelum anak didiknya bisa melaksanakan sholat yang baik dan benar, maka seorang guru harus terus mencoba sampai apa yang diinginkaan dari sebuah kurikulum tersebut dapat tercapai dan berjalan dengan baik.
7. Berusaha memperoleh hasil kerja yang sebaik-baiknya
Guru diharapkan meningkatkan diri mencari cara baru agar mutu dan kualitas pendidikan selalu meningkat, pengetahuan yang dimilikinya selalu bertambah dengan membuka mata terhadap perkembangan zaman dan tidak peka terhadap perubahan-perubahan. Disamping itu guru perlu menjaga semangat kerja yang tinggi sehingga program pendidikan yang dicanangkan dapat memperoleh hasil yang memuaskan. Apalagi pada saat ini banyak anggapan bahwa pendidikan agama masih dalam tahap tradisional dan masih banyak ketertinggalan, misalnya keterbatasan dalam alat-alat peraga untuk menyampaikan sebuah materi PA1, saat calon guru itu belajar sehingga pemahamannya kurang dari kurangnya pemahaman tersebut menyebabkan ketertinggalan, oleh Karena itu seorang guru harus bekerja keras untuk meningkatkan diri dengan cara mencari hal-hal yang baru.
8. Simpatik,lues, arif/bijaksana sederhana dalam bertindak
Guru harus simpati karena sifat ini aka disenangi oleh siswa, jiwa siswa yang menyenangi gurunya sudah barang tentu akan menyenangi pelajarannya. Demikian juga dalam hal melaksnakan proses belajar mengajar harus menarik dengan daya tarik yang diungkapkan oleh motivasi belajar yang lebih meningkat. Keuletan merupakan factor pendukung untuk disenangi oleh siswa karena guru mampu bergaul berkomunikasi dengan baik. Kebijaksanaan dan kesederhanaan maka menjalin keterikatan batin dengan siswa. Dengan adanya keterkaitan tersebut, guru mampu mengendalikan proses belajar mengajar yang dilaksanakan.
9. Bersifat terbuka
Dengan dimilikinya sifat terbuka oleh guru maka demokrasi dalam belajar akan terlaksana sebab dengan demokrasi akan mendidik mmelatih siswa untuk bersifat terbuka pula, tidak menutupi kesalahan terus terang mau dikritik untuk dimasa yang akan datang. Misalnya, dalam proses belajar mengajar, salah seorang siswa menanyakan pelajaran yang diajarkannya, karena tidak pahamnya, kemudian guru tersebut tidak bisa mnejawabnya, dikarenakan minimnya pengetahuan maka seorang guru haruslah terbuka dan berterus terang karena hal ini akan menciptakan kondisi belajar yang demokratis.
10. Kreatif
Artinya guru harus mampu melihat berbagai kemungkinan yang menurut perkiraannya sama-sama jitu, kreatifitas itu erat sekali hubungannya dengan kecerdasan. Untuk memperoleh kreatifitas yang tinggi sudah tentu banyak bertanya, banyak belajar. Misalnya di lembaga pendidikan yang terbatas dengan tenaga pendidiknya, sehingga yang mengajarkan PAI bukan dari jurusannya melainkan dari jurusan matematika, hal ini guru tersebut dituntut untuk kreatif, dengan cara belajar kembali ataupun dengan cara banyak bertanya.
11. Berwibawa
Dengan kewibawaan maka proses belajar mengajar akan terlaksana dengan baik, berdisiplin tertib. Dengan demikian kewibaan bukan berarti sisa harus takut kepada guru, melainkan siswa akan taat patuh pada peraturan yang berlaku pada peraturan yang berlaku sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh guru. Sebagai contoh dalam proses belajar mengajar seorang guru ketika menerangkan suatu mata pelajaran harus menjaga pembicaraannya guru tidak boleh bicara yang kotor/tidak masuk akal walaupun bertujuan untuk membuat anak didik senang hal ini tidak boleh dilakukan bagi seorang guru karena akan merusak citra/kewibawaan seorang guru.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, dengan tugas utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi dan tempramen seseorang, hanya dapat diketahui lewat penampilan, tindakan, atau ucapan ketika menghadapi suatu pesroalan.
Disamping perangkat dan segala hal yang berhubungan dengan pengajaran dan yang bermuara pada keberhasilan dalam tujuan pendidikan itu, ternyata adalah kepribadian guru juga merupakan hal yang sangat menentukan dalam keberhasilan pengajaran. Bahkan keberhasilan kepribadian ini dianggap vital karena anaak didik akan mencomtoh dan menyerap dari segala tingkah laku dan penampilan guru saat mengajar.
Seorang guru diharapkan dapat mengimplementasikan baik secara emosional, intelegensi dan spiritual sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara baik, efektif dan efisien. Kepribadian guru PAI diharapkan benar-benar benar-benar teraplikasikan dalam kegiatan proses belajar mengajar, baik dari peserta didiknya maupun dari tenaga pendidiknya itu sendiri sehingga tercapainya tujuan dari pendidkan itu yaitu menciptakan manusia yang beriman dan bertaqwa.
DAFTAR PUSTAKA
Daradjat, Zakiyah, Kepribadian Guru, Jakarta : Bulan Bintang, 1978.
Gordon, Thomas, Guru Yang Efektif, Jakarta : CV. Rajawali, 1984
Hawi, Akmal, Kompetensi Guru PA I, Palembang, Farah Press, 2010
Http/ fdj. Indrokurniawan. Blogspot.com.2012/05/makalah kepribadian guru.Html
Hamalik, oemar, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2001
Soelaeman, Menjadi Guru, Bandung: CV. Diponegoro: 1985
Usman, Moh, Menjadi Guru Profesinal, Bandung: Remaja Rosdakarya: 1995
Wijaya dan Rusyan, Kemampuan dasar guru dalam proses belajar mengajar,
Bandung: Remaja Rosdakarya: 1991
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam proses beiajar mengajar, guru menempati posisi penting dan penentu berhasil tidaknya pencapaian tujuan suatu proses pembelajaran. Sekalipun proses pembelajaran telah menggunakan berbagai model pendekatan dan metode yang lebih memberi peluang siswa aktif, kedudukan dan peran guru tetap penting dan menentukan.
Dalam sebuah ungkapan bahasa Arab dinyatakan, "ath-thoriqotu ahammu minal maadah, wal mudarrisu ahammu min kulli sya’i " (Metode atau cara pembelajaran lebih penting daripada materi pembelajaran, dan guru lebih penting dari segalanya). Ungkapan ini mengandung makna bahwa seorang guru harus menguasai materi pembelajaran yang akan disampaikan. Lebih baik dari itu, penguasaan metode pembelajaran oleh seorang guru memiliki arti lebih penting lagi dan menentukan keberhasilan suatu proses pembelajaran dari pada hanya penguasaan materi. Di atas itu semua, posisi dan peran guru jauh lebih penting dan menentukan atas segalanya. Materi, metode, media, dan sumber pembelajaran, semuanya menjadi tidak bermakna apabila guru tidak mampu memerankan tugasnya dengan baik.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan gambaran latar belakang masalah yang kami uraikan diatas, maka rumuasan masalah yang menjadi pokok pembahasan ini yaitu :
1. Apa Pengertian Kepribadian Guru ?
2. Serta Bagaiamanakah Karakteristik Kepribadian Guru Di MI, MTS, Dan MA?
3. Apa Saja Komponen -Komponen Yang Ada Dalam Kepribadian Guru?
C. Batasan Masalah
Untuk menghindari kemungkinan melebarnya masalah pada saat dalam diskusi berlangsung, untuk itu kami sebagai penyusun makalah memberi batasan masalah yang hanya berkisar pada pengertian kcpribadian guru PAl dan komponen kompetensi guru.
D. Tujuan
Disamping itu adapun tujuan pembuatan makalah ini untuk mengetahui sejauh mana seorang guru PAI dapat berkompetensi dalam mendesain dan melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar dengan anak didiknya yaitu dengan membangun karakteristik yang emosional dan spritual dalam membentuk keimanan dan ketaqwaan, sesuai dengan yang diharapkan agar dapat menjadi suri tauladan yang baik bagi peserta didik kelak, sekaligus tujuannya adalah untuk memenuhi tugas mata
kuliah yang diberikan oleh dosen pengampu dalam mata kuliah kompetensi guru PAI yaitu Suyitno, M.Pd.I Semoga dengan adanya kompetensi guru tersebut bisa menjadi acuan bagi tercapainya salah satu tujuan bangsa Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kepribadian Guru
Faktor terpenting dari seorang guru adalah kepribadiannya. Karena dengan kepribadian itulah seorang guru bisa menjadi seorang pendidik dan pembina bagi anak didiknya atau bahkan malah sebaliknya akan menjadi perusak dan penghancur bagi masa depan anak didiknya. Kepribadian yang sesungguhnya adalah abstrak, sulit dilihat dan tidak bisa diketahui secara nyata yang dapat diketahui yaitu hanyalah penampilan dari segi luarnya saja yaitu misalnya : dalam tindakannya, ucapannya, cara bergaul, berpakaian dan menghadapi segala persoalan atau masalah baik yang ringan ataupun yang berat.
Kepribadiaan adalah sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri-ciri khas dan prilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjadi standar atau baku, sehingga kalu dikatakan pola sikap itu sudah berlaku terus-menerus secara konsisten dalam menghadapi situasi yang dihadapi.
Menurut Zakiah Darajat ada 2 macam kepribadian guru yaitu :
1. Guru yang menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang memerintah dan menyumh yaitu hal seperti ini kurang menyenangkan dalam pendidikan.
2. Guru yang menempatkan sebagai pembimbing bagi anak didiknya yaitu biasanya guru seperti ini sangat menarik dan menyenangkan. Maksudnya yaitu ia akan disenangi dan disayangi oleh anak didiknya.
Bagaimanapun seorang guru memberikan pelajaran bahkan penguasaan materi yang matang tanpa diiringi oleh kepribadian yang baik dan menarik seorang guru bisa menjadi guru yang ideal.
Menurut Thomas Gordon yang disebut oleh Drs. Mudjito definisi guru ideal diambil dari mitos umum tentang guru dan pengajaran yaitu:
1. Guru yang baik adalah guru yang kalem tidak pernah berteriak dan bertempramen baik selalu tenang dan tak pernah menunjukkan emosi yang tinggi.
2. Guru yang tidak pernah berprasangka buruk.
3. Menerima anak didik dengan semua pandangan yang sama.
4. Menyediakan lingkungan belajar yang menarik,merangsang atau stimulus, tenang bebas dan sesuai dengan aturan setiap saat.
5. Selalu konsisten dan mempunyai pengetahuan yang banyak dibandingkan oleh anak-anak muridnya.
Menurut M.L Soelaiman, ada resep tentang bagaimana mengolah dan memasak guru yang diambil dari inggris yang kira-kira berbunyi "carilah seorang ppribadi yang muda, kuat dean menarik, kemudian kupaslah segala sifatnya yang berlebih-lebihan dalam bentuk suara, pakaian dan tindak tanduknya yang mungkin membungkusnya. Kemudian tuangkanlah dengan suatu adonan berupa campuran dank keberanian Abu Daud, kebijaksanaan seperti nabi Sulaiman, seperti kekuatan Samson dan Kesabaran nabi Ayyub, yaitu dalam takaran sama banyaknya. Bumbunya adalah garamnya pengalaman, ladanya semangat, dan minyaknya simpati dan jangan lupa humor sebagai bumbu penyedapnya.
Maksudnya dari penjelasan diatas adalah untuk menjadi guru yang baik, kepribadian guru harus lebih kuat baik fisik maupun mental. Sebab dalam tugasnya guru mempunyai wewenang dalam mengahadapi tugas dan tanggung jawab yang cukup berat, kemudian guru harus berjiwa muda yang dapat menyelami gejolak perasaan serta liku-liku hidup generasi muda dan harus mempunyai daya tarik agar dapat mendekati dan didekati oleh siswa.
Untuk menjadi guru yang berkompetensi, maka guru harus mengembangkan kepribadiannya yang meliputi:
1. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Berperan sebagai masyarakat sebagai warga negara yaitu yang berjiwa Pancasila.
3. Mengembangkan sifat-sifat terpuji yang dipersyaratkan bagi jabatan guru.
Ketiga hal diatas dianggap perlu karena seluruh ranah kompetensi guru wajib menjalankan apa-apa yang dianggap sebagai norma dan falsafah hidup suatu bangsa, beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah syarat wajib yang harus dimilikioleh setiap warga negara bukan hanya seorang guru yang memilikinya, karena syarat dari warga negara Indonesia diantaranya adalah beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Selain beriman kepada tuhan Yang Maha Esa seorang guru hendaknya harus menyatu dengan masyarakat karena disamping sebagai guru tersebut sebagai contoh panutan/tauladan bagi anak didiknya dimasyarakat tersebut juga bagian dari masyarakat yang mempunyai satu kesatuan dan saling ketergantungan. Namun hal yang paling terpenting dalam kehidupan seorang guru adalah pengembangan sifat-sifat terpuji dan akhlakul karimah yaitu sesuai dengan tujuan pendidikan agama Islam bagi seorang guru. Kepribadian guru juga merupakan salah satu faktor terpenting didalam melakukan atau melaksanakan penciptaan suasana yang menguntungkan dalam proses belajar mengajar.
Menurut Abu Ahmadi seorang guru yang berhasil dituntut untuk beriskap hangat, adil, objektif, dan fleksibel sehingga terbina suasana emosional yang menyenangkan dalam proses belajar mengajar.
Kompetensi adalah seperangkat tindakan inteligen penuh tanggung jawab yang harus dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu melaksanakan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan tertentu. Sifat inteligen harus ditunjukkan sebagai kemahiran, ketepatan dan keberhasilan bertindak. Sifat tanggung jawab harus ditunjukkan sebagai kebenaran tindakan baik dipandang dari susut ilmu pengetahuan, teknologi maupun etika. Dalam arti tindakan itu benar ditinjau dari sudut ilmu pengetahuan, efisien, efektif dan memiliki daya tarik dilihat dari sudut teknologi dan baik ditinjau dari sudut etika.
Secara etimologis kata guru berasal dari bahasa sansekerta yang mempunyai arti yang dihormati. Seorang guru pada hakikatnya adalah seorang pembimbing spiritual bagi seseorang atau kelompok yang dirinya telah menguasai kemampuan spiritual. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya) mengajar.
Dalam UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (pasal 1 Ketentuan Umum), definisi Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Jadi, Kompetensi guru adalah himpunan pengetahuan, kemampuan, dan keyakinan yang dimiliki seorang guru dan ditampilkan untuk situasi mengajar. Atau dengan kata lain kompetensi guru adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.
B. Kepribadian Guru Madrasah Ibtida'iyah
Segenap guru hendaknya mengetahui dan menyadari betul bahwa kepribadiannya yang tercermin dalam berbagai penampilan itu ikut menetukan tercapai atau tidaknya tujuan pendidikan pada sebuah lembaga pendidikan itu sendiri, pada umumnya dan pada tempat ia mengajar pada khususnya. Kepribadian guru akan diserap dan diambil oleh anak didik menjadi unsur dalam kepribadiannya yang sedang tumbuh dan berkembang.
Madrasah Ibtida'iyah di Indonesia bertujuan untuk mencetak anak didik yang menjadi seorang warga negara yang baik, menerima dan mau melaksanakan pancasila dan UUD 1945. Selain itu juga madrasah ini bertujuan untuk menumbuhkan sikap dan nilai-nilai yang positif lainnya yang diperlikan bagi seorang muslim yang baik sehat jasmani maupun rohaninya, berpikiran maju dan berminat pada ilmu pengetahuan dan lain-lian. Semua yang ingin dicapai oleh tujuan madrasah ini yang dijabarka dalam kurikulumnya harus dapat benar-benar dipahami dan dilaksanakan oleh semua guru dan tercermin dalam bentuk penampilan kepribadinnya.
C. Kepribadian Guru Madrasah Tsanawiyah
Syarat kepribadian bagi guru madrasah tsanawiyah tidak begitu banyak berbeda dengan guru madrasah ibtida'iyah. Artinya setiap guru yang mengajar pada madrasah Tsanawiyah harus memahami tujuan dari madrasah tsanawiyah tersebut dan selanjutnya harus tercermin dalam bentuk kepribadinnya. Hubungan yang tercermin antara guru dan murid hendaknya dekat kepada kakak dan adik, yang bersifat membimbing dengan penuh rasa pengertian karean para siswa sedang berada dalam umur goncang akibat pertumbuhan jasmani yang sedang dialaminya.
D. Kepribadian Guru Madrasah Tsanawiyah
Guru madrasah aliyah memerlukan persyaratan kepribadian yang hampir sama dengan kepribadian guru di madrasah Ibtida'iyah dan madrasah Tsanawiyah, walaupun bidang study dan keahliannya semakin banyak dan bermacam-macam sesuai dengan jurusannya masing-masing. Kepribadian seorang guru madrasah harus dapat menjamin tercapainya tujuan pendidikan pada madrasah aliyah tersebut secara khusus dan tujuan pendidikan secara umum.
Dalam mencapai tujuan yang berpijak kepada dasar yang telah ditentukan dalam kurikulum madrasah aliyah sangat diperlukan persyaratan kepribadian guru yang akan melaksanakan kuikulum itu. Betapapun baiknya kurikulum itu dan banyaknya buku-buku dan alat pelajaran namun tujuan kurikulum itu tidak tercapai, jika guru yang melaksanakan kurikulum tersebut tidak memahami, tidak menghayati, tidak berusaha mencapainya dengan keseluruhan pribadi dan tenaga yang ada pada guru tersebut.
E. Komponen-Komponen Kompetensi Pribadi
Kemampuan pribadi meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Mengembangkan kepribadian.
a. Bertaqwa kepada tuhan Yang Maha Esa
• Mengkaji ajaran-ajaran yang dianut
• Mengamalkan ajaran yang dianut
• Mencerminkan sikap sal ing menghargai antar umat beragama
b. Berperan dalam masyarakat sebagai warga Negara yang berjiwa pancasila
• Mengkaji berbagai macam manusia pancasila.
• Mengkaji sifat-sifat kepatriotan baangsa Indonesia.
• Menghayati pada patriot dalam merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan.
• Membiasakan diri menerapka nilai pancasila dalam kehidupan.
• Mengkaji hubungan manusia dengan lingkungan alamiah buatan
• Membiasakan diri menghargai lingkungan hidup.
c. Mengembangkan sifat-sifat terpuji yang dipersyartkan bagi jabatan guru
• Mengkaji sifat-sifat yang harus dimiliki bagi jabatan guru
• Membiasakan diiri menerapkan sifat-sifat sabar, demokratis, menghargai pendapat orang lain, sopan santun, tanggap terhadap pembaharuan.
2. Berinteraksi berkomunikasi
a. Berinteraksi dengan sejawat untuk meningkatkan profesional.
• Mengkaji ajaran struktur organisasi Depdiknas
• Mengkaji hubungan kerja professional "Berlatih menerima, memberikan balikan
• Membiasakan diri mengikuti perkembangan profesi.
b. Berinteraksi dengan masyarakat untuk penunaian misi pendidikan.
• Mengkaji berbagai lembaga kemayarakatan yang berkaitan dengan pendidikan.
• Berlatih menyelenggarakan kegiatan masyarakat yang menunjang usaha-usaha pendidikan
3. Melaksanakan bimbingan penyuluhan
a. Membimbing siswa yang mengalami kesulitan
• Mengkaji konsep dasar bimbingan
• Berlatih mengenai kesulitan belajar murid
• Berlatih memberikan bimbingan kepada murid yang mengalami kesulitan belajar.
b. Membimbing murid yang mengalami berbal khusus.
• Mengkaji cirri-ciri anak yang berkelainan berbakat khusus
• Berlatih Mengenal anak yang berkelainan yang berbakat khusus.
• Berlatih menyelenggarakan kegiatan untuk anak yang berkelainan yang berbakat khusus.
4. Melaksanakan Administrasi sekolah
a. Mengenal pengadministrasian kegiatan sekolah
• Mengkaji berbagai jenis sarana administrasi sekolah
• Mengkaji pedoman administrasi sekolah
• Melaksanakan kegiatan administrasi sekolah
• Berlatih membuat mengisi berbagai format administrasi sekolah
• Berlatih menyelenggarakan administrasi sekolah
5. Melaksanakan penelitian sedcrhana untuk keperluan pengajaran.
a. Mengakaji konsep dasar penelitian ilmiah
• Mengkaji konsep dasar ilmiah yang sederhana
• Memahami laporan penelitian sederhana untuk kepentingan pengajaran
b. Melaksanakan penelitian sederhana
• Menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran
• Membiasakan diri untuk melakukan penelitian untuk keperluan pengajaran
Adapun kemampuan kepribadian guru dalam proses belajar mengajar secara rinci yaitu sebagai berikut:
1. Kemantapan integritas pribadi
Seorang guru dapat dituntut untuk dapat bekerja secara teratur tetapi kreatif dalam mengahadapi ppekerjaannya sebagai guru. Menurut Oemar Hamalik "Kemampuan dalam bekerja hendaknya merupakan karakteristik pribadinya, sehingga pola hidup seperti ini terhayati pula oleh siswa. Kemantapan integritas pribadi tidak terjadi, dengan sendirinya melainkan tumbuh melalui proses belajar yang sengaja diciptakan . Misalnya : Seorang guru dalam mengajarkan bab masalah muamalah kepada murid, guru tidak boleh sekedar hanya mengajarkan tetapi harus mampu mengaplikasikan juga dalam kehidupannya secara konsisten baik didalam sekolah maupun diluar sekolah dan hal ini pun harus dilatih dan terus dilatih melalui proses belajar mengajar.
2. Peka terhadap perubahan atau pembaharuan
Dimaksudkan agar apa yang dilakukan oleh sekolah tetap konsisten dengan kebutuhan zaman. Untuk itu kemampuan penelitian merupakan karakteristik yang harus dikuasai oleh guru walaupun dalam bentuk sifat yang sederhana. Sebagai contoh seperti yang kita lihat sekarang dalam kehidupan masyarakat banyak hal-hal yang baru dalam tatanan kehidupannya. Mungkin sesuatu yang baru ini tidak terjadi pada zaman nabi, sehingga nabi tidak menjalaskan masalah hukumnya, jadi seorang guru harus peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dengan mengadakan suatu penelitian agar tidak terjadi ketinggalan zaman yang disebabkan adanya tatanan baru yang ada dalam kehidupan masyarakat.
3. Berpikir alternatif
Ini dimaksudkan untuk menghindari verbalisme dan absolutisme. Untuk itu panduan belajar untuk setiap pelajaran harus dibuat setiap semester. Guru harus mampu memberikan berbagai alternative jawaban memilih salah satu alternative untuk kelancaran proses belajar mengajar dan meningkatkan akan mutu pendidikan. Misalnya: dalam mengajarkan masalah do'a qunut pada shalat shubuh, seorang guru tidak boleh menekankan pada satu pendapat ulama saja, misalnya ulama mengatakan tidak boleh, karena ini akan mengakibatkan verbalisme tetapi seorang guru harus berpikir alternatif dengan cara memberikan berbagai pendapat-pendapat ulama dari dari berbagai macam rujukan/sumber buku untuk menghindarkan verbalisme pada diri anak didik.
4. Adil, jujur dan objektif
Sifat-sifat ini harus ditunjang dengan mengamalkan nilai-nilai moral, social yang diperoleh dari kehidupan masyarakat serta pengalaman belajar yang diperolehnya. Adil artinya menempatkan sesuatu pada tempatnya sedangkan jujur adalah tulus ikhlas dalam menjalankan fungssinya sebagai guru. Objektif artinya menjalani aturan-aturan yang ditetapkan tidak pilih kasih. Hal ini memang sangat sesuai dengan kepribadian guru apalagi guru agama, karena dalam materi PAI ada yang membahas masalah tersebut, jadi seorang guru tidak hanya mengajarkan masalah-masalah tersebut, tetapi dituntut untuk mengaplikasikannya didalam kehidupannya sehari-hari bagaimana seorang siswa aka berlaku adil, jujur sesuai yang diajarkan oleh seorang pendidik kalau guru itu sendiri tidak melakukannya.
5. Berdisiplin dalam melaksanakan tugas
Disiplin muncul dari kebiasaan hidup yang teratur serta mencintai dan menghargai pekerjaan. Disiplin memerlukan proses pendidikan untuk itu guru memerlukan pemahaman tentang landasan ilmu pendidikan. Disiplin adalah sesuatu yang terletak didalam hati didalam jiwa seseorang yang memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu tidak sebagaimana yang ditetapkan oleh norma-norma aturan yang berlaku. Misalnya, ketika mendapat tugas jam mengajar pada jam pertama,harus dating tepat waktu, jangan sampai terlambat karena hal ini akan menciptkan suatu kondisi yang teratur dalam proses belajar mengajar.
6. Ulet tekun bekerja
Keuletan ketekunan dalam bekerja tanpa mengenal lelah serta tanpa pamrih yang harus diperhatikan oleh guru. Guru harus ulet tekun dalam bekerja sehingga program pendidikan yang telah digariskan dalam kurikulum dapat dijalankan agar dapat tercapai dengan baik. Misalnya, dalam pencapaian tujuan dari materi yang diajarkan, yaitu siswa dapat melaksanakan sekolah dengan baik dan benar. Maka seorang guru harus ulet dan tekun dalam menjalankan tugasnya untuk pencapaian dari tujuan sebuah materi sebelum anak didiknya bisa melaksanakan sholat yang baik dan benar, maka seorang guru harus terus mencoba sampai apa yang diinginkaan dari sebuah kurikulum tersebut dapat tercapai dan berjalan dengan baik.
7. Berusaha memperoleh hasil kerja yang sebaik-baiknya
Guru diharapkan meningkatkan diri mencari cara baru agar mutu dan kualitas pendidikan selalu meningkat, pengetahuan yang dimilikinya selalu bertambah dengan membuka mata terhadap perkembangan zaman dan tidak peka terhadap perubahan-perubahan. Disamping itu guru perlu menjaga semangat kerja yang tinggi sehingga program pendidikan yang dicanangkan dapat memperoleh hasil yang memuaskan. Apalagi pada saat ini banyak anggapan bahwa pendidikan agama masih dalam tahap tradisional dan masih banyak ketertinggalan, misalnya keterbatasan dalam alat-alat peraga untuk menyampaikan sebuah materi PA1, saat calon guru itu belajar sehingga pemahamannya kurang dari kurangnya pemahaman tersebut menyebabkan ketertinggalan, oleh Karena itu seorang guru harus bekerja keras untuk meningkatkan diri dengan cara mencari hal-hal yang baru.
8. Simpatik,lues, arif/bijaksana sederhana dalam bertindak
Guru harus simpati karena sifat ini aka disenangi oleh siswa, jiwa siswa yang menyenangi gurunya sudah barang tentu akan menyenangi pelajarannya. Demikian juga dalam hal melaksnakan proses belajar mengajar harus menarik dengan daya tarik yang diungkapkan oleh motivasi belajar yang lebih meningkat. Keuletan merupakan factor pendukung untuk disenangi oleh siswa karena guru mampu bergaul berkomunikasi dengan baik. Kebijaksanaan dan kesederhanaan maka menjalin keterikatan batin dengan siswa. Dengan adanya keterkaitan tersebut, guru mampu mengendalikan proses belajar mengajar yang dilaksanakan.
9. Bersifat terbuka
Dengan dimilikinya sifat terbuka oleh guru maka demokrasi dalam belajar akan terlaksana sebab dengan demokrasi akan mendidik mmelatih siswa untuk bersifat terbuka pula, tidak menutupi kesalahan terus terang mau dikritik untuk dimasa yang akan datang. Misalnya, dalam proses belajar mengajar, salah seorang siswa menanyakan pelajaran yang diajarkannya, karena tidak pahamnya, kemudian guru tersebut tidak bisa mnejawabnya, dikarenakan minimnya pengetahuan maka seorang guru haruslah terbuka dan berterus terang karena hal ini akan menciptakan kondisi belajar yang demokratis.
10. Kreatif
Artinya guru harus mampu melihat berbagai kemungkinan yang menurut perkiraannya sama-sama jitu, kreatifitas itu erat sekali hubungannya dengan kecerdasan. Untuk memperoleh kreatifitas yang tinggi sudah tentu banyak bertanya, banyak belajar. Misalnya di lembaga pendidikan yang terbatas dengan tenaga pendidiknya, sehingga yang mengajarkan PAI bukan dari jurusannya melainkan dari jurusan matematika, hal ini guru tersebut dituntut untuk kreatif, dengan cara belajar kembali ataupun dengan cara banyak bertanya.
11. Berwibawa
Dengan kewibawaan maka proses belajar mengajar akan terlaksana dengan baik, berdisiplin tertib. Dengan demikian kewibaan bukan berarti sisa harus takut kepada guru, melainkan siswa akan taat patuh pada peraturan yang berlaku pada peraturan yang berlaku sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh guru. Sebagai contoh dalam proses belajar mengajar seorang guru ketika menerangkan suatu mata pelajaran harus menjaga pembicaraannya guru tidak boleh bicara yang kotor/tidak masuk akal walaupun bertujuan untuk membuat anak didik senang hal ini tidak boleh dilakukan bagi seorang guru karena akan merusak citra/kewibawaan seorang guru.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, dengan tugas utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi dan tempramen seseorang, hanya dapat diketahui lewat penampilan, tindakan, atau ucapan ketika menghadapi suatu pesroalan.
Disamping perangkat dan segala hal yang berhubungan dengan pengajaran dan yang bermuara pada keberhasilan dalam tujuan pendidikan itu, ternyata adalah kepribadian guru juga merupakan hal yang sangat menentukan dalam keberhasilan pengajaran. Bahkan keberhasilan kepribadian ini dianggap vital karena anaak didik akan mencomtoh dan menyerap dari segala tingkah laku dan penampilan guru saat mengajar.
Seorang guru diharapkan dapat mengimplementasikan baik secara emosional, intelegensi dan spiritual sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara baik, efektif dan efisien. Kepribadian guru PAI diharapkan benar-benar benar-benar teraplikasikan dalam kegiatan proses belajar mengajar, baik dari peserta didiknya maupun dari tenaga pendidiknya itu sendiri sehingga tercapainya tujuan dari pendidkan itu yaitu menciptakan manusia yang beriman dan bertaqwa.
DAFTAR PUSTAKA
Daradjat, Zakiyah, Kepribadian Guru, Jakarta : Bulan Bintang, 1978.
Gordon, Thomas, Guru Yang Efektif, Jakarta : CV. Rajawali, 1984
Hawi, Akmal, Kompetensi Guru PA I, Palembang, Farah Press, 2010
Http/ fdj. Indrokurniawan. Blogspot.com.2012/05/makalah kepribadian guru.Html
Hamalik, oemar, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2001
Soelaeman, Menjadi Guru, Bandung: CV. Diponegoro: 1985
Usman, Moh, Menjadi Guru Profesinal, Bandung: Remaja Rosdakarya: 1995
Wijaya dan Rusyan, Kemampuan dasar guru dalam proses belajar mengajar,
Bandung: Remaja Rosdakarya: 1991
Rabu, 16 September 2015
Selasa, 15 September 2015
MAKALAH PERENCANANA PEMBELAJARAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perencanaan adalah proses menetapkan keputusan yang berkaitan dengan tujuan-tujuan yang akan dicapai , sumber-sumber yang akan diberdayakan, dan teknik/metode yang dipilih secara tepat untuk melaksanakan tindakan selama kurun waktu tertentu agar penyelenggaraan sistem pendidikan dapat dilaksanakan secara efektif, efisien dan bermutu.
Fungsi perencanaan secara umum meliputi kegiatan menetapkan apa yang ingin dicapai, bagaimana cara mencapainya, berapa waktu yang akan dibutuhkan, berapa orang yang diperlukan dan berapa biayanya.
Melalui perencanaan yang telah dibuat, dapat terbayangkan tujuan yang ingin dicapai, aktivitas atau proses yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan, saran dan fasilitas yang diperlukan, hasil yang akan didapat, bahkan faktor kendala maupun unsur pendukung juga sudah dapat diantisipasi.
Dalam setiap kegiatan tentu lebih baik bila didahului dengan penyusunan suatu rencana, sehingga apa yang diinginkan dapat terlaksana dengan baik serta hasil yang diperoleh akan baik pula. Membuat perencanaan untuk mengoperasionalkan strategi yang sudah dimiliki dan diterjemahkan ke dalam realisasi kegiatan dalam proses implementasi adalah bagian dari penyusunan rencana kegiatan operasional.
B. Rumusan Masalah
1. Pengertian rencana kegiatan
2. Perlunya Penyiapan Perencanaan Pembelajaran
3. Tujuan rencana kegiatan
4. Langkah-langkah menyusun rencana kegiatan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan atau rancangan dapat diartikan sebagai proses penyusunan berbagai keputusan yang akan dilaksanakan pada masa yang akan datang untuk mencapai tujuan yang akan ditentukan (Gaffar,1987). Perencanaan merupakan proses penetapan dan pemanfaatan sumber-sumberdaya secara terpadu yang diharapkan dapat menunjang kegiatan dan upaya-upaya yang akan dilaksanakan secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan
Berikut ini definisi tentang perencanaan pembelajaran menurut para ahli
a. Ritchy
Ilmu yang merancang detail spesifik untuk pengembangan, evaluasi dan pemeliharaan situasi dengan fasilitas penegetahuan diantara satuan besar dan kecil persoalan pokok.
b. Smith & Ragan
Proses sistematis dalam mengertikan prinsip belajar dan pembelajaran kedalam rancangan untuk bahan dan aktivitas pembelajaran. Proses sistematis dan berfikir dalam mengartikan prinsip belajar dan pemebelajaran kedalam rancangan untuk bahan dan aktivitas pemebelajaran.
c. Zook
Proses berfikir sistematis untuk mebantu pelajar memahami (belajar)
d. Ibrahim
Kegiatan merumuskan tujuan apa yang akan dicapai oleh suatu kegiatan pembelejaran, cara apa yang dipakai untuk menilai pencapaian Tujuan tersebut, materi apa yang akan disampaikan, bagaimana cara menyampaikan, serta alat atau media apa yang diperlukan.
e. Banghart dan Trull
Proses penyusunan materi pelajaran, penggunaan media pembelajaran, penggunaan pendekatan atau metode pembelajaran, dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa satu semester yang akan datang untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
f. ToetiSukamto
Pengembangan pembelajran yang merupakan sebagai sistem yang akan terintegrasi dan terdiri dari beberapa unsur yang salin berinteraksi.
g. Nana Sudjana
Kegiatan memproyeksikan tindakan apa yang akan dilaksanakan dalam suatu pembelajaran (PBM) yaitu dengan mengkoordinasikan (mengatur dan merespon) komponen-komponen pembelajaran sehingga arah kegiatan (tujuan), isi kegiatan (materi), cara penyampaian kegiatan
B. Perlunya Penyiapan Rancangan Kegiatan Pembelajaran
Rancangan kegiatan pembelajaran adalah seperangkat tulisan yang berisi rencana pembelajaran dari tenaga pengajar dalam memberikan materi. Dalam pembuatannya perlu ditampilkan atau disiapkan tujuan pembelajaran yang jelas dan dapat dilaksanakan sesuai dengan kondisi setempat. Secara konkret dapat diukur sampai seberapa jauh tujuan yang ditentukan itu dapat dicapai.
Manfaat Perencanaan :
1.Karena adanya perencanaan makapelaksanaan pengajaran menjadibaik dan efektif. Yang dimaksud adalah maka seorang guru bisa memberikan materi pelajaran dengan baik karena ia harus dapat menghadapi situasi di dalam kelas secara mantap, tegas dan fleksibel.
2.Karena perencanaan maka seseorang akan tumbuh menjadi seseorang guru yang baik.
C. Komponen Perencanaan Pembelajaran
Menurut buku yang berjudul Strategi Belajar Mengajar karyaSyaiful Bahri Djamarah& Aswan Zain komponen perencanaan pembelajaran terdiri dari:
1.Tujuan (Objective)
Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tujuan dalam pembelajaran merupakan komponen yang dapat mempengaruhi komponen pengajaran lainnya seperti bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, pemilihan metode, alat, sumber, dan alat evaluasi.
2.BahanPelajaran (Material)
Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Karena itu, guru yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikannya pada anak didik.
3.Metode (Method)
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Prof.Dr.Winarto Surakhmad,M.Sc.Ed,mengemukakan lima macam factor yang mempenggaruhi penggunaan metode mengajar sebagai berikut ini:
a. tujuan yang berbagai jenis dan fungsinya
b. anak didik yang berbagai tingkatan kematangan.
c. situasi yang berbagai tingkatan keadaannya.
d. fasilitas yang berbagai kualitas dan kuantitas.
e. pribadi guru dan kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda.
4.Alat (Media)
Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Misalnya: bagan, grafik, komputer, dan lain-lain.
5.Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar. Misalnya: testulis, lisan, praktek, dan lain-lain.
Tujuan evaluasi dapat dilihat dari dua segi, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. L.Pasaribu dan Simanjuntak dalam buku strategi belajar Mengajar karya Drs.Syaiful Bahri Djamarah,M.Ag. dan Aswan Zain. menegaskan bahwa :
a. tujuan umum dari evaluasi adalah
1.mengumpulkan data yang membuktikan taraf kemajuan siswa dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
2.memungkinkan guru menilai aktivitas/pengalaman yang didapat.
3.menilai metode mengajar yang digunakan
b. tujuan khusus dari evaluasi adalah
1.merangsang kegiatan siswa
2.menemukan sebab-sebab kemajuan atau kegagalan
3.memberi bimbingan yang sesuai kebutuhan
4.memperoleh bahan laporan perkembangan siswa yang diperlukan orang tua siswa dan lembaga
5.untuk memperbaiki mutu pelajaran.
D. Tujuan Perencanaan Pembelajaran
1. Mengidentifikasi apa yang harus dilakukan
2. Menguji dan membuktikan bahwa:
a. Sasaran dapat tercapai sesuai dengan waktu yang telah dijadwalkan
b. Adanya kemampuan untuk mencapai sasaran
c. Sumberdaya yang dibutuhkan dapat diperoleh
d. Semua informasi yang diperlukan untuk mencapai sasaran dapat di peroleh
e. Adanya beberapa alternatif yang harus diperhatikan.
3.Berperan sebagai media komunikasi
a. Hal ini menjadi lebih penting apabila berbagai unit dalam organisasi memiliki peran yang berbeda dalam pencapaian
b. Dapat memotivasi pihak yang berkepentingan dalam pencapaian sasaran.
E. Langkah – Langkah menyusun Rencana Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan dalam menyusun rancangan-rancangan pembelajaran mencakup
1. Analisis kurikulum
Secar afisik, kurikulum dituang kandalam suatu dokumen yang pada intinya menggambarkan cakupan bahan yang harus diajarkan dalam tingkatan kelas dan kurun waktu tertentu. Kurikulum dalam bentuk dokumen semacam ini merupakan kurikulum ideal ataukurikulum yang diharapkan (ideal or expected curiculum). Di dalampraktek seorang guru dituntut untuk mengartikulasikan kurikulum kedalam ragam dan rentang pengalaman belajar peserta didik. Artikulasi dan implementasi kurikulum yang ideal tadi akan sangat bersifat kontekstual dan bergantung kepada kondisi objektif guru maupun peserta didik.
Suatu kurikulum atau lingkup pelajaran dirancang dan disusun atas suatu asumsi taktertulis tentang pengetahuan dan keterampilan yang menyangkut pengetahuan siswa sebelumnya. Dalam konteks pembelajaran asumsi taktertulis tadi perlu diklasifikasi dan dieksplisitkan sehingga menjadi titik tolak memulai pembelajaran. Benyamin Bloom (1976) mengembangkan suatu teori yang menjelaskan mengapa unjuk kerja siswa berbeda atas tugas-tugas pembelajaran (learning tasks)yang diperhadapkan kepadanya.
2.Penyiapan tujuan intruksional
Beberapa definisi yang disampaikan oleh beberapa tokoh seperti Robert F. Magner (1962) yang mendefinisikan tujuan instruksional sebagai tujuan perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa sesuai kompetensi. Juga ada Eduard L. Dejnozka dan David E. Kavel (1981) yang mendefinisikan tujuan instruksional adalah suatu pernyataan spefisik yang dinyatakan dalam bentuk perilaku yang diwujudkan dalam bentuk tulisan yang menggambarkan hasil belajar yang diharapkan serta Fred Percival dan Henry Ellington (1984) yang mendefinisikan tujuan instruksional adalah suatu pernyataan yang jelas menunjukkan penampilan / keterampilan yang diharapkan sebagai hasil dari proses belajar.
Ada dua macam tujuan instruksional yaitu:
a. Tujuan instruksional umum (TIU)
Tujuan instruksional umum (TIU) adalah tujuan pengajaran yang perubahan prilaku siswa yang belajar masih merupakan perubahan internal yang belum dapat dilihat dan diukur. Kata kerja dalam tujuan umum pengajaran masih mencerminan perubahan prilaku yang umumnya terjadi pada manusia, sehingga masih menimbulkan beberapa penafsiran yang berbeda-beda. Contoh TIU: “setelah melakukan pelajaran siswa diharapan dapat memahami penjumlahan dengan benar”. Kata kerja “memahami penjumlahan” merupakan kata kerja- yang bersifat umum karena pemahaman penjumlahan dapat ditafsirkan berbeda.
b. Tujuan instrusional khusus (TIK)
Tujuan instruksional khusus (TIK) adalah tujuan pengajaran dimana perubahan prilaku telah dapat dilihat dan diukur. Kata kerja yang menggambarkan perubahan prilaku telah spesifik sehingga memungkinkan dilakukan pengukuran tanpa menimbulkan lagi berbagai perberdaan penafsiran. Misal TIK yang dirumuskan sbb “Siswa akan menunjukkan sikap positif terhadap kebudayaan nasional”, dapat lebih dikhususkan dengan mengatakan “siswa akan membuktikan penghargaannya terhadapa seni tari nasional dengan ikut membawakan suatu tarian dalam perpisahan kelas”.
3. Kegiatan yang diarahkan untuk mencapai tujuan
Maksudnya rancangan kegiatan pembelajaran mengarahkan tercapainya tujuan pembelajaran baik itu tujuan secara umum maupun tujuan secara khusus.
4. Perencanaan evaluasi
Tahapan-tahapan evaluasi
a. Persiapan
Sebelum kegiatan evaluasi pembelajaran dilaksanakan, tentu terlebih dahulu menyusun perencanaan yang baik dan matang.
Menurut (Dimyati dan Mudjiono, 2009:209) tahap persiapan terdapat tiga kegiatan yaitu
a) Menetapkan pertimbangan dan keputusan yang dibutuhkan
Kegiatan ini dapat pula disebut dengan langkah merumuskan tujuan, seperti dikemukakan oleh (Nurkancana dalam Dimyati dan Mudjiono, 2009:209). Lebih lanjut Nurkancana mengemukakan bahwa seorang elevator harus mempertanyakan “Apakah tujuan evaluasi yang akan saya lakukan ini?” tujuan itu dapat berupa tujuan evaluasi misalnya untuk mengetahui penguasaan peserta didik dalam kompetensi /subkompetensi tertentu setelah mengikuti proses – proses pembelajaran. Dapat pula evaluasi tersebut yang bertujuan untuk mengetahui kesulitan belajar peserta didik (diagnostic tes).
Perumusan tujuan evaluasi hasil belajar itu penting sekali, sebab tanpa tujuan yang jelas maka evaluasi pembelajaran akan berjalan tanpa arah dan pada akhirnya dapat mengakibatkan evaluasi menjadi sia-sia.
b) Menggambarkan informasi yang dibutuhkan
Pendidik mendeskripsikan secara rinci segala yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan atau sasaran evaluasi pembelajaran. Tahapan menggambarkan informasi yang dilaksanakan, disebut juga tahapan menentukan aspek-aspek yang dievaluasi.
c) Menetapkan informasi yang tersedia
Kegiatan ini dimaksudkan agar tidak terjadi pengulangan pengumpulan informasi pada tahap selanjutnya. Adanya deskripsi informasi yang tersedia, juga akan mempermudah penyusunan instrumen evaluasi pembelajaran tes atau non tes.
b. Penyusunan instrumen evaluasi
Untuk melaksanakan evaluasi pembelajaran, tentunya kita memerlukan instrumen/alat yang akan digunakan untuk mengumpulkan informasi/data yang kita butuhkan.
Prosedur yang ditempuh untuk menyusun alat penilaian tes sebagai berikut:
a.Menentukan bentuk tes
Bentuk tes ada dua macam yaitu
a) tes objektif
b)tes subjektif
b. Membuat kisi-kisi butir soal
yaitu kegiatan yang dilaksanakan evaluator untuk membuat suatu tabel yang memuat tentang perincian aspek isi dan apek perilaku beserta proporsi yang dikehendakinya.
Kisi-kisi butir soal terdiri dari luang lingkup
a) Pokok bahasan atau pelajaran yang dinilai
b)Taraf-taraf penguasaan aspek-aspek yang akan diukur kognitif ,afektif dan psikomotor.
c)Jumlah butir soal
d)Jumlah waktu yang diperlukan
c. Menulis butir soal,
yaitu kegiatan yang dilaksanakan evaluator setelah membuat kisi-kisi soal.
Kaidah-kaidah penulisan tiap butir soal
a) Benar-salah
• Memastikan butir soal dipastikan benar atau salah
• Jangan menulis butir soal yang memperdayakan
• Menghindari pertanyaan negatif
• Menghindari pertanyaan berarti ganda, dll
b) Pilihan ganda
• Pokok soal dirumuskan jelas
• Perumusan soal dan jawaban hendaknya merupakan pertanyaan ang diperlukan.
• Satu soal hanya ada satu jawaban benar
• Diusahakan tidak ada petunjuk untuk jawaban benar
• Merakit soal, diusahakan jawaban benar letaknya tersebar sehigga tidak terjadi pola jawaban tertentu
• Diusahakan jawaban soal yang satu tidak bergantung dari jawaban butir soal lain, dll
c) Soal Menjodohkan
• Memastikan antara premis dan pilihan jawaban homogen
• Dasar untuk menjodohkan premis dan pilihan dibuat jelas,dll
d) Soal melengkapi
• Memastikan pertanyaan dapat dijawab dengan kata atau kalimat yang mudah
• Memastikan jawaban satu yang benar
• Jangan memutus-mutus soal melengkapi
• Hindari memberi petunjuk ke arah jawaban,dll
e) Soal esai
• Memastikan pertanyaan terarah
• Memutuskan cara memberian skor pertanyaan esai, dll
d. Menata soal
Pengelompokan butir-butir soal berdasarka bentuk soal dan melengkapi petunjuk pengerjaannya
c. Review dan Revesi” Soal.
Langkah ini merupakan hal penting untuk diperhatikan, karena seringkali kekurangan yang terdapat pada suatu soal tidak terlihat oleh penulis soal. Review dan Revesi soal ini idealnya dilakukan oleh orang lain yang berkopeten (bukan si penulis soal) dan terdiri dari suatu tim review yang terdiri dari ahli-ahli bidang studi, pengukuran dan bahasa. Dengan mereview soal, berarti sudah menganalisis soal tersebut secara kualitatif . Mereview soal meliputi hal-hal berikut : materi, Konstruksi ,dan bahasa.
d. Pelaksanaan
Setelah persiapan yang dibutuhkan sudah selesai, maka yang perlu dilakukan selanjutnya adalah pelaksanaan.
Adapun langkah-langkahnya yaitu
a. Persiapan tempat pelaksanaan
b. Melancarkan pengukuran
c. Menata dan mengadministrasikan lembar soal dan lembar jawaban siswa untuk memudahkan penskoran
e. Pengolahan hasil penilaian
Data yang terkumpul dari penilaian dengan teknik tes akan berupa data kuantitatif, sedangkan teknik non tes akan menjaring data kuantitatif dan kualitatif sekaligus. Data yang telah terkumpul tersebut masih perlu diolah kembali.
Langkah-langkahnya yaitu
a. Menskor
Kegiatan memberikan skor pada hasil penilaian yang dicapai oleh siswa. Menurut (Arikunto dalam Dimyati dan Mudjiono, 2009:218) untuk menskor diperlukan tiga macam alat bantu yaitu kunci jawaban, kunci skoring, pedoman pengangkaan. Tiga macam alat bantu tersebut berbeda-beda untuk setiap bentuk butir soal.
f. Penafsiran Hasil Penilaian
Setelah pengolahan hasil penilaian selesai, maka guru harus mampu dalam menafsirkan. Penafsiran terhadap hasil penilaian dapat dibedakan menjadi dua yaitu penafsiran secara individu dan bersifat klasikal (Nurkancana da;am Dimyati dan Mudjiono, 2009:218).
g. Penafsiran dan penggunaan hasil evaluasi
Penafsiran dan penggunaan hasil evaluasi ini dimaksudkan untuk memberikan umpan balik kepada semua pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Pihak yang memperoleh laporan tentang hasil belajar siswa adalah siswa, guru yang mengajar atau guru lain, orang tua, dll
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Perencanaan atau rancangan dapat diartikan sebagai proses penyusunan berbagai keputusan yang akan dilaksanakan pada masa yang akan datang untuk mencapai tujuan yang akan ditentukan (Gaffar,1987). Perencanaan merupakan proses penetapan dan pemanfaatan sumber-sumberdaya secara terpadu yang diharapkan dapat menunjang kegiatan dan upaya-upaya yang akan dilaksanakan secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan
Menurut buku yang berjudul Strategi Belajar Mengajar karyaSyaiful Bahri Djamarah& Aswan Zain komponen perencanaan pembelajaran terdiri dari:
1. Tujuan (Objective)
2. BahanPelajaran (Material)
3. Metode (Method)
4. Alat (Media)
5. Evaluasi (Evaluation)
Tujuan perencanaan pembelajaran adalah untuk menguji dan mengidentifikasi apa yang harus dilakukan, dan memastikan apakah Tujuan tercapai sesuai perencanaan dan tepat waktu.
Adapun langkah-langkah menyusun perencanaan pembelajaran adalah dari tahap : menganalisis kurikulum, menentukan Tujuan Instruksional, kegiatan yang diarahkan untuk dicapai hingga menyiapkan perencanaan evaluasi.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.sekolahdasar.net/…/pengertian-perencanaan-pembel…
http://sulistianingsihasri.blogspot.com/…/merancang-kegiata…
http://kalaubisasekarangkenapaharusbesok.blogspot.com/…/ran…
http://harisnst33.blogspot.com/…/tujuan-instruksional-umum-…
http://efineko.wordpress.com/…/design-atau-rancangan-evalu…/
Langganan:
Postingan (Atom)


